Liputan

Badra Santi Raih Anugerah Pustaka Nusantara 2018

 

Apakah Warga Buddha Turut Serta Memperjuangkan Kemerdekaan?

Dahulu, sekitar era dekade tahun 1980-an. Seringkali kita dengar “ejekan” bernuansa SARA. Misalnya: “Orang Buddha Ga pernah ikut perang kemerdekaan. Ya kan?”

Ejekan itu tidaklah keliru. Sebab narasi sejarah saat itu dipengaruhi kepentingan kelompok tertentu. Namun seiring berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi. Serta keberanian sanak turun pemeluk Buddha yang mempunyai dokumen arsip penting tentang sumbangsih penduduk pemeluk Buddha dalam perang membela tanah air. Ejekan itu pelan-pelan pupus, berganti decak kekaguman yang luar biasa. Betapa tidak? justru dengan telah dimunculkannya sejarah yang selama ini ditutupi. Pandangan masyarakat menjadi terbuka luas. Bahwa ternyata penduduk pemeluk Buddha, pernah mengawali perang melawan VOC-Belanda, pada pertengahan abad ke-18.

Peristiwa itu terjadi pada tahun 1741, 1743, dan 1750. Saat itu Penduduk Jawa dan Tionghoa, baik yang memeluk Islam maupun Kejawen Kebuddhaan bersatu padu mempertahankan pesisir utara Jawa Tengah, dari VOC-Belanda. Adalah Raden Panji Margana, putra Raden Panji Arya Adipati Sasangka Tejakusuma V, Lasem; Tumenggung Widyaningrat atau Oei Ing Kiat, pengusaha Muslim; Tan Ke Wie, pengusaha dermawan; dan Kyai Ali Badhawi, Imam Masjid Raya Lasem, bersatu memimpin pertempuran mempertahankan tanah air.

Perang itu menyisakan kekalahan bagi penduduk Indonesia. Banyak penduduk gugur, termasuk Raden Panji Margana dan sahabatnya, Tan Ke Wie dan Oei Ing Kiat. Selain itu VOC Belanda juga melakukan tindakan keji dan biadab terhadap artefak kekayaan seni budaya bangsa Indonesia. Melalui kaki tangan VOC-Belanda bernama Adipati Sura Adimenggala, naskah Siwa-Buddha diperintahkan dengan paksa untuk dikumpulkan, lalu dibakar di alun-alun Kota Lasem.

Sejak persatuan penduduk Jawa dan Tionghoa, baik yang memeluk Islam maupun Buddha bersatu melawan VOC-Belanda. VOC-Belanda mulai menerapkan politik adu-domba (devide et impera). Antara lain, penduduk Jawa-Tionghoa, dan pemeluk Islam serta Kejawen Kebuddhaan dipisah, diadu domba. Ini karena persatuan entitas bangsa tersebut, menghalangi Belanda menjajah Ibu Pertiwi.

Beberapa saat sebelum wafat, Raden Panji Margana berpesan, “Kelak akan tiba saatnya, Pohon Mandirasari (Bodhi-ficus religiousa), dan Bunga Teratai akan tumbuh di setiap desa. Maka pada saat itulah Buddha Dharma dan seni budaya bangsa, akan tumbuh bersemi kembali menghantarkan kejayaan negeri”. Pesan Raden Panji Margana tersebut tersemat dalam karya sastra berbahasa Jawa yang berjudul “Carita Lasem & Badra Santi”.

Gapura Padepokan Tunggak Semi di komplek Candi Khemasarano Mahathera, desa Bakaran Wetan, Juwana, Kabupaten Pati

Jadi Inspirasi Pembabaran Buddha Dharma
Berdasarkan narasi sejarah di dalam karya sastra itulah kemudian. Terdapat Tiga Sahabat yang menggali makna filosofinya, dan diambil sebagai semangat dalam membabarkan Buddha Dharma. Tiga Sahabat itu adalah:  Bhikkhu Khemasarano Mahathera, Pandita Raden Panji T. Hadidarsana, dan Pandita Ramadharma S. Reksowardojo. Mereka bertiga kompak menggaungkan sesanti “Padepokan Tunggak Semi”.

Tiga Sahabat itu adalah para pandita dari organisasi “Buddhis Indonesia”. Ini adalah organisasi pandita Buddha yang berdiri di Wihara Tanah Putih pada tanggal 1 Januari 1965. Di kemudian hari, Buddhis Indonesia menjadi cikal bakal Mapanbudhi (kemudian Magabudhi). Frasa Sesanti “Padepokan Tunggak Semi” pernah menjadi sabuk pengikat pembabaran Buddha Dharma sejak dekade tahun 1960, hingga akhir dekade tahun 1990. Sabuk pengikat itu berisi karya sastra bercorak Buddhis dalam bahasa Jawa berjudul, Badra Santi. Setelah wafatnya Bhikkhu Khemasarano Mahathera, sesanti “Padepokan Tunggak Semi” disematkan pada gapura pintu masuk komplek Candi Khemasarano Mahathera di Juwana.

Kini, setelah Tiga Sahabat itu telah wafat, banyak pemeluk Buddha – khususnya para pemudanya tidak mengenal sesanti Padepokan Tunggak Semi. Tidak banyak yang mengetahui, bahwa Badra Santi pernah menjadi sarana pembabaran Buddha Dharma, dan banyak menginspirasi para pemuda menjadi bhikkhu. Ketidaktahuan itu sangatlah wajar. Selain karena masih rendahnya minat pemuda pada sastra Buddhis berbahasa Jawa. Banyak pemeluk Buddha tidak mengetahui, bahwa semasa hidupnya, Bhante Khemasarano Mahathera adalah seorang penulis sastra Jawa yang produktif. Apalagi, karya sastra beliau hampir tidak ada yang ditulis tegas dengan namanya sebagai penggubah. Bhante Khemasarano Mahathera seringkali menuliskan sandi asma pada karya sastranya sebagai,  “Sramana ing Padepokan Tunggak Semi, Desa Bakaran Wetan, Juwana, Kabupaten Pati”. Inilah sifat dan sikap kerendahan hati seorang ksatria agung Jawa yang sudah menep dan tidak suka popularitas.

Pesan Bhikkhu Khemasarano Mahathera Tentang Seni Budaya Jawa
Sifat kerendahan hati Bhikkhu Khemasarno Mahathera dapat kita jumpai pada Sambutan atas penerbitan ulang karya Sastra Badra Santi. Pesan Bhikkhu Khemasarano Mahathera itu adalah:

Lir upaminipun lêlawuhan mêkatên, kula upamèkakèn:
“Trimah luwung angsal lawuh ulam lêmèt (têri rawa),
Gampil dipun pamah, nglênnyêr kaulu,
Sêdhêp gurih murakabi kasarasan.
Tinimbang sêgahan têdhan daging kothot,
Rêkaos anggènipun mamah,
Angel dipun êlêg, nyêbani padharan”.

Terjemahan bebas:

“Bila  diumpamakan  hidangan (Badra Santi)  saya  umpamakan:
Lebih  baik dapat  lauk  ikan  teri,
mudah dikunyah,  enak  ditelan,
sedap gurih  membuat  sehat.
Daripada hidangan makan daging, susah mengunyahnya,
susah ditelan, membuat sakit diperut” (SBS 1985: 7).

Sramana ing Padepokan Tunggak Semi
Desa Bakaran Wetan, Juwana, Kabupaten Pati
(Bhikkhu Khemasarano, Mahathera)

Raih Anugerah Pustaka Nusantara 2018

Gusti Ayu Rus Kartiko (tengah) mewakili Badra Santi Institute, saat menerima Anugerah Pustaka Nusantara 2018 di Gedung Perpusnas RI, tanggal 26 Juli 2016

Setelah wafatnya Tiga Sahabat Pelestari Badra Santi. Hampir tidak ada pemeluk Buddha yang mengenal, apalagi melestarikannya. Termasuk organisasi pandita Magabudhi, yang pernah disemai cikal bakalnya oleh Buddhis Indonesia – tempat Para Tiga Sahabat itu berkarya pada pelayanan Buddha Dharma. Sampai kemudian pada dekade tahun 2000-an, Badra Santi Institute, sebuah lembaga penelitian Buddhis yang didirikan oleh Keluarga Pelestari Badra Santi di Semarang, berhasil merevitalisasi naskah.

Dengan dukungan keluarga Pandita Raden Panji T. Hadidarsana di Semarang, dan keluarga Pandita Ramadharma S. Reksowardojo di Yogyakarta, naskah Badra Santi dapat diontologikan kembali, dalam bentuk kekinian. Rangkaian proses ontologi sastra Badra Santi dipelopori oleh Gusti Ayu Rus Kartiko, seorang gadis yang kebetulan adalah upacarika dari pesisir utara. Dalam prosesnya, Gusti Ayu didampingi Dr. Widodo Brotosejati, akademisi dari Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.

Berkat kolaborasi mereka, munculah beberapa hasil karya seni budaya Badra Santi. Antara lain: penyusunan enam notasi gending karawitan, tiga seni tari, penerjemahan dan penerbitan ulang naskah, hingga seni wayang kulit. Selanjutnya, Badra Santi dapat dikenal kembali oleh masyarakat Buddhis di Indonesia berkat dukungan dan publikasi dari Ngasiran. Alumni STAB Nalanda yang juga seorang jurnalis majalah online Buddhazine.com, bernama pena, Ryan Nala.

Usaha Badra Santi Institute dalam mengenalkan kembali Badra Santi kepada anak muda Buddhis zaman now, akhirnya mendapatkan pengakuan dari negara. Pada tanggal 26 Juli 2018, Badra Santi Institute meraih “Anugerah Pustaka Nusantara 2018”, yang diserahkan di Auditorium Perpusnas RI. Ini adalah anugerah pustaka sekaligus pengakuan negara yang pertama, bagi naskah sastra Buddhis Nusantara di era kemerdekaan.


Tanda Anugerah Pustaka Nusantara 2018 dari Perpusnas RI untuk Badra Santi Institute

Tantangan Kekinian
Penghargaan tersebut bukanlah akhir dari usaha panjang upaya meneruskan karya dan cita-cita para Tiga Sahabat Pelestari Badra Santi di era sebelumnya. Sebab Badra Santi bukanlah satu-satunya karya sastra Buddhis yang dilestarikan Tiga Sahabat Pelestari Badra Santi di masa lalu. Namun, terdapat 16 karya sastra bercorak Buddhis berisi narasi sejarah dan tembang dalam bahasa Jawa berisi pesan moral budi pekerti melimpah. Perlu perhatian dan dukungan berbagai pihak yang peduli. Agar karya-karya sastra itu dapat terus lestari dan dipetik nilai dan mafaatnya bagi generasi mendatang. Penghargaan Anugerah Pustaka 2018 adalah cambuk dan tantangan bagi generasi muda Buddhis untuk cinta pada seni budaya bangsa sendiri. Bagaimana pendapat Anda?

Kliping berita dari Suara Merdeka, 16 Agustus 2018

Penulis: Dhammatejo W.
Editor: Cittasukho W.

Share it!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *