Carita Wihara lan Caitya

“Tuah” Gajah Pusaka Kraton Solo, Guncangkan Tahta Dewa Indra

Pada tahun 1745, Sunan Paku Buwana II memindahkan keraton dari Kartasura ke Surakarta. Ini karena keraton dianggap telah ternoda oleh serangan pasukan pemberontak. Pertama oleh gabungan pasukan Jawa-Tionghoa dari pesisir utara. Suatu perjuangan luhur penduduk Pantura di bawah pimpinan Raden Panji Margana, pemeluk Kejawen Kebuddhaan Badra Santi – Putra Raden Panji Arya Adipati Tejakusuma V, Lasem. Ia dibantu sahabat-sahabatnya: Kyai Ali Bhadawi beserta santri-santrinya; Pengusaha Tionghoa Muslim Oei Ing Kiat; dan Pengusaha dermawan bernama Tan Ke Wie. Para pemberontak yang kemudian disebut “brandhal” oleh Belanda ini. Bersatu padu dengan tegas menolak kekuasaan VOC-Belanda di Tanah Air. Serangan Kedua oleh pasukan Madura pimpinan Cakraningrat IV. Setelahnya, Sang Raja mengumpulkan para penasihat dan menterinya untuk mempersiapkan berpindahnya ibu kota Mataram. Peristiwa ini dicatat dalam Kronik Badra Santi oleh Raden Panji Kamzah di pesisir utara. Selain itu, pujangga keraton bernama Yasadipura juga mengabadikannya dalam suatu karangan bersajak pada sekitar akhir abad ke-18.

“Maka ia minta kepada para “ahli (para nujum)” mencari sebuah lokasi yang cocok untuk itu. Ada beberapa orang, di antaranya komandan garnisum Belanda, yang berkecenderungan memilih Desa Kadipolo, di sebelah timur Bengawan Solo. Di tempat itu tanahnya rata. Pembabatan pun sudah dimulai. Tetapi ada lagi yang menganggap tempat itu kurang baik dan mengusulkan membangun kota baru di Solo, sekalipun daerah itu berawa dan berbukit-bukit. Tumenggung Honggawongsa mengemukakan bahwa “menurut perhitungannya, jika ibukota tempatnya di timur Bengawan, orang Jawa akan kembali memeluk agama Buddha” (tiyang jawi badhe wangsul Buda malih). Akhirnya pendapatnyalah yang diterima”, Lombard (1996: 108-109).

Baca juga: Keluarga Soko Tatal Sanak Turun Kalijaga

Selain narasi di atas, terdapat cerita tutur lain di balik pencarian lokasi keraton baru. Pencarian tanah untuk berdirinya keraton, dituntun penunjuk jalan berupa seekor gajah pusaka. Setelah ritual dimulai, Si Gajah yang dianggap keramat ini berjalan tanpa henti dari Kartasura, dan baru berhenti di Kadipolo. Di tempat ini, karena ahli nujum menganggap bahwa belum saatnya agama Buddha bangkit kembali (dalam suatu legenda, dikisahkan agama Buddha akan bangkit kembali 500 tahun pascaruntuhnya Majapahit). Maka Si Gajah yang baru saja ndeprok-beristirahat, segera digusah-dibangunkan kembali untuk berjalan mencari lokasi baru. Akhirnya terpilihlah tempat yang kini menjadi keraton Solo.

Bangsawan Keraton, Turut Bangkitkan Agama Buddha

Peristiwa politik dan sosial budaya yang terjadi sekitar 250 tahun lalu itu. Akhirnya terjawab seiring Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Dengan disahkannya Pancasila sebagai Dasar Negara, dan UUD 1945. Semua agama yang diakui di Indonesia, dijamin undang-undang untuk dipeluk dan dipraktikan penduduknya. Termasuk agama Buddha yang pelan-pelan bangkit, ditandai bertambah banyaknya jumlah penganutnya dan berdirinya wihara-wihara baru di seluruh pelosok Tanah Air. Salah satunya di sekitar keraton Surakarta, yang kemudian menjadi daerah administratif dipimpin seorang walikota.

Berdasarkan Sumber Koleksi Dokumen Arsip Badrasanti Institute, berupa hasil wawancara dengan Rama (baca: Romo) Ananda Suyono, pada tahun 2007. Diketahui bahwa kebangkitan Buddha Dharma di Surakarta dapat terjadi berkat kepeloporan Ashin (bhikkhu) Jinnarakhita. Bhikkhu yang bernama upasaka The Boan An ini sejak muda sudah suka mempelajari berbagai hal di bidang kebatinan. Salah satunya kejawen beserta laku ritual-spiritualnya yang ia pelajari hingga ke Solo. Setelah menjadi bhikkhu pada tahun 1954 dan menetap di Wihara Buddha Gaya Watu Gong, Semarang. Ia ditemani seorang pemuda yang masih kerabat Mangkunegaran bernama Pangeran Ananda Suyono Hameng Sutrisno. Sebelumnya, kedekatan Ashin Jinnarakhita dengan Rama Ananda Suyono, demikian nama sapaannya, sudah terjalin sejak mereka sama-sama bergabung dalam Perhimpunan Theosofi Indonesia. Rama Ananda Suyono, menjadi murid sekaligus pembantu setia Ashin Jinnarakhita hingga bulan November 1964. Setelah kembali ke Surakarta, Rama Ananda Suyono sempat mendirikan sanggar samadhi di lingkungan keraton Mangkunegaran. Selain itu, ia juga mengadakan puja bakti anjangsana dari rumah warga Buddha yang satu, ke rumah lainnya.

Di karenakan ketidaktahuan dan belum dikenalnya kembali Buddha Dharma oleh masyarakat Surakarta. Setelah peristiwa politik tahun 1965, kegiatan puja bakti seringkali mendapat teguran dari warga dan tokoh masyarakat serta tokoh agama setempat. Selain dianggap sebagai agama yang tidak jelas, klenik, dan sebagainya. Kadang mereka mendapat tekanan dari aparat dan masyarakat, terkait perizinan kegiatan puja bakti. Akhirnya, mulai sekitar tahun 1967, para pemeluk Buddha terutama yang berlatar seniman dan penghayat kejawen/kebatinan, mendapatkan bantuan dari salah satu pembesar keraton. Mereka diizinkan menggunakan gedung pertemuan di Baluwarti untuk puja bakti, namun dikemas dalam bentuk seni budaya jawa. Jadilah kemudian, sekitar seratusan warga ajeg hadir ke Baluwarti dengan alasan ingin menyaksikan pentas seni, dan atau ikut latihan seni. Padahal, kegiatan seni budaya selalu diawali dengan puja bakti, dan diselingi pembabaran Buddha Dharma. Salah satunya dengan menghadirkan Ashin Jinnarakhita.

Pada kesempatan itu, Ashin Jinnarakhita sempat mendorong putra Surakarta bernama Pandita Vimala Nanda menjadi bhikkhu, dan sesudah diupasampada, ia diberi nama Jinnaguna. Mulai dekade tahun 1960-1970an itu pula, muncul para perintis kebangkitan Buddha Dharma di Surakarta. Seperti Pandita Puja Dharmosuryo, Suprapto Padmo Sudharmo, Rama Seniman, Pandita Suwignya Sradhabala, Pandita Sudaryo, Pandita Bedjo, Pandita Marto Subito, dan masih banyak lagi.

Wihara Dhamma Manggala di Purbayan, Sukoharjo

Merintis Berdirinya Wihara  

Pada sekitar pertengahan tahun 1970-an, terdapat seorang warga Buddha yang masih kerabat sastrawan Asmarawarman Khoo Ping Hoo, bernama Go Jing Wan. Ia meminjamkan rumahnya yang terletak di Kemasan, untuk digunakan sebagai tempat puja bakti. Letaknya berada di Gandekan Tengen, di dekat Pasar Besar, dan sempat dikenal sebagai Caitya Pasar Gede. Namun sesudah wafatnya si empunya rumah dan harus dikembalikan lagi ke ahli waris, puja bakti di Pasar Gede berakhir. Puja bakti sempat berpindah ke kediaman seniman Suprapto Padmo Sudharmo di daerah Lemah Putih. Di sela-sela itu, pada akhir dekade tahun 1970-an, puja bakti anjangsana masih dilakukan dari rumah ke rumah. Salah satunya di kediaman Pandita Suwignya Sradhabala, Desa Sambirejo, Kadipiro, Kecamatan Banjarsari, yang ajeg diikuti hampir seratusan warga.

Tersentuh dengan keprihatinan warga Buddha yang belum juga mempunyai wihara tetap. Seorang warga di Lemah Abang, Kadipiro, merelakan tanahnya dibeli dengan cara diangsur untuk didirikan wihara. Maka mulai dekade tahun 1980-an dimulailah gotong-royong pembangunan wihara secara bertahap. Lalu diresmikan Bhikkhu Khemasarano Mahathera pada tahun 1990, dengan nama Wihara Vimala Nanda. Nama wihara diambil dari nama Pandita Vimala Nanda, yang pernah menjadi bhikkhu pertama dari Surakarta. Atas jasanya pada perkembangan Buddha Dharma di sekitar keraton.

Meski di tengah suasana prihatin untuk mewujudkan cita-cita luhur berdirinya sebuah wihara di Surakarta. Warga Buddha Surakarta masih menyempatkan diri membantu saudaranya di Kabupaten Sukoharjo untuk berkembang. Saat itu, karena keselarasan nilai-nilai seni budaya jawa dengan Buddha Dharma. Banyak warga di Kecamatan Purbayan, Sukoharjo memeluk Buddha Dharma. Bahkan beberapa lurah, carik, hingga Pak Camat Purbayan berserta keluarga dan banyak warga lainnya, turut memeluk Buddha Dharma. Meski sudah berbeda wilayah administratif, Warga Buddha di Wihara Vimala Nanda, Lemah Abang, gugur gunung mendukung warga Buddha di Purbayan mendirikan Wihara Dhamma Manggala di Sukoharjo. Tidak sampai di sini, dengan semangat holobis kuntul baris, Warga Buddha di Surakarta juga turut serta mendorong dan mendukung berdirinya Wihara Sasana Karuna di Desa Ngenden, di Selatan Surakarta, dan Wihara Dharma Loka, di Baki, Kabupaten Sukoharjo. Pada waktu itu, para tokoh perintisnya adalah Pandita Ardjo Sutono, Pandita Dyanamurti Mujiyo, didukung Upasika Widyadharma Suparyono, Bakdi, dan Sukidi.

Baca Juga: Kembalinya Tradisi Mandala Kadewaguruan di Ujungpara

Tahta Dewa Indra Panas-Terguncang

Pada tahun 1996, terdapat seorang pengusaha bernama Sundoro Hosea yang suka sekali berdiskusi. Melalui Narto, orang kepercayaannya yang kebetulan memeluk agama Hindu. Sundoro Hosea beberapa kali memintanya mengumpulkan banyak tokoh agama untuk berdiskusi dan berdebat. Saat itu, Narto mengundang Pandita Drs. Dyana Murti Mujiyo mewakili tokoh Buddhis dari Surakarta. Setelahnya, Sundoro Hosea tertarik dengan penjelasan Pandita Mujiyo, namun masih kurang puas dengan pengetahuan Dharma yang ia dengar. Atas saran Pandita Munjiyo, Sundoro Hosea pergi ke Wihara Mendut, Magelang, untuk memperoleh pengetahuan lebih lanjut.

Dua tahun kemudian, pandangan hidup Sundoro Hosea berbalik arah setelah terjadi peristiwa kerusuhan 1998. Saat menyaksikan banyak kerugian material akibat kerusuhan. Ia berpikir akan lebih baik bila seseorang menyimpan hartanya dalam bentuk tempat ibadah. Selain akan bermanfaat bagi banyak orang, nilai kebajikannya tetap akan lestari hingga para pendirinya wafat. Sundoro Hosea yang sejak tahun 1995 membeli lima petak tanah secara bertahap di daerah Pucang Sawit. Di lokasi petak tanah itu, pada tahun 2000 Sundoro Hosea mengajak warga Buddha di Surakarta dan sekitarnya memulai pembangunan wihara. Sampai akhirnya pada Minggu Wage, 24 Agustus 2002, Wihara yang kemudian diberi nama Dhamma Sundara itu, diresmikan oleh Menteri Agama, Prof. Dr. Said Agil Husein Al Munawar, M.A.  

Praptaning Pratima

Sejak saat itu, warga Buddha di Surakarta mempunyai kebanggaan dengan berdirinya wihara yang bernilai daya guna tinggi. Selain puja bakti dan sekolah minggu, berbagai kegiatan besar sudah diselenggarakan. Baik di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. Bahkan belakangan, perayaan Dharmasanti Waisak yang ajeg dilakukan setiap tahun. Masuk ke dalam agenda pariwisata Pemkot Surakarta. Seperti misalnya pada Sabtu malam, 15 Juni 2019 baru-baru ini. Sejumlah warga Buddha dan tamu undangan dari Pemkot serta perwakilan lintas agama, dibawa takjub dengan penampilan Tari Puja “Praptaning Pratima”.

Tari Jaranan yang ditampilkan  Patrick, Enzo, Oxcell, Prajna, dan Krisna. Foto oleh Abellia
Tari Bajidor Kahot yang ditampilkan muda-mudi Wihara Dhamma Sundara, Thera, Keyza, dan Zahra. Foto oleh Abellia
Lagu Hadirkan Cinta, yang dibawakan Abellia, Gutami, Thera, dan Ellen. Dengan iringan musik oleh Giri, Baga, Lorencia, Ananta, Jessica, dan Sukkha

Beberapa saat sebelum ditampilkannya tari ini. Anak-anak sekolah minggu dan muda-mudi Wihara Dhamma Sundara dengan apik menyuguhkan beberapa tari pendahulu. Yaitu: (1). Tari Cublak-cublang Suweng; (2). Tari Jaranan; (3). Tari Bajidor Kahot; dan (4). Lagu Hadirkan Cinta. Pada Perayaan Waisak Raya 2019 itu, Wakil Walikota Surakarta, Bapak Dr. H. Achmad Purnomo, Apt. hadir menyampaikan sambutan. Serta pesan Dhamma disampaikan oleh Bhante Sri Paññāvaro Mahathera, yang hadir didampingi tujuh orang bhikkhu dan samanera.

Praptaning Pratima sendiri menggambarkan kisah-kisah dalam Jataka, bagian dari Pustaka Tipitaka. Pertujukan yang ditampilkan apik oleh Nakula Sadewa Dance itu melukiskan narasi disematkannya Uddesika Cetiya atau Buddharūpa di Dhammasala Dhamma Sundara. Karena langgam gaya Buddharūpa yang disematkan di Dhammasala bercorak khas Thailand. Maka malam hari itu pemeran Dewa Indra secara khusus mengenakan kostum ala Thailand.  

Tari Praptaning Pratima yang menggambarkan Dewa Indra turun ke bumiloka untuk menyematkan pratima di Wihara Dhamma Sundara. Foto oleh P.Md. Lilik Jayasilo

“Tuah Gajah Pusaka Kraton Majapahit”

Meminjam istilah H.B. Jassin, dalam “Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Essay”. Alur kisah tari disematkannya pratima berupa Uddesika Cetiya ini tentu tidak terjadi secara ujug-ujug di Wihara Dhamma Sundara. Ada rentetan peristiwa pendahulu sejak Si Gajah Pusaka Kraton mencari tempat berdirinya pusat kerajaan baru. Hingga berseminya Buddha Dharma di Surakarta yang dibangkitkan kembali oleh Ashin Jinnarakhita dan Rama Ananda Suyono. Serta didukung para sesepuh warga Buddha lainnya untuk “menggenapi” jejak “tuah” satwa yang dianggap suci dalam mitologi Hindu dan Buddha itu.  

Seperti baru-baru ini, disampaikan seorang pemeluk Buddha yang menjalankan Dhamma Vinnaya dengan baik. Ia menyampaikan pandangan batinnya, bahwa Wihara Dhamma Sundara berdiri di atas tanah yang jauh di bawahnya terdapat sungai besar yang mengalir. Keadaan ini “menyebabkan” wihara ini belum dapat ditinggali seorang bhikkhu secara ajeg, sebagai Duta Dhamma khusus di wilayah Kraton Surakarta. Mungkin saja “tuah” Gajah Pusaka Kraton Kartasura belum berhenti di sini. Ia masih bekerja hingga kelak akan berdiri sebuah wihara di sebelah timur kali Bengawan Solo (dahulu kali Bengawan Semanggi). Konon, Gajah Pusaka Kraton penunjuk jalan itu adalah satwa yang dipelihara turun-temurun sejak era Majapahit. Bila benar demikian, akan berhenti dimanakah “tuah” Gajah ini? Patut kita nantikan bersama.

Penulis: Dhammatejo W.
Editor: Cittasukho W.
Sumber:
– Dokumen arsip Badra Santi Institute
– Wawancara dengan P.Md. Sektiono, Lemah Abang, Surakarta

Share it!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *