Layang

SELAMAT JALAN PANDIT JINARATANA KAHARUDIN

“Alangkah beruntungnya umat Buddha, jika semangat ini mengalir ke setiap guru agama Buddha yang memiliki rasa tanggung jawab atas perkembangan dan kelestarian Buddha Dhamma khususnya di Indonesia”, Catatan Perjalanan Hidup Pejuang Dhamma (2015: 17).

Sesepuh yang tersisa
Petikan di atas diambil dari otobiografi singkat sosok sesepuh Buddhis bernama Pandit Jinaratana Kaharudin. Saat otobiografi itu diterbitkan tahun 2015, beliau telah berusia 78 tahun. Di dalam buku yang disusun ulang oleh Selamat Rodjali dibantu Silvia Lam. S.E. dapat diketahui bahwa Pandit Jinaratana Kaharudin adalah sedikit dari sesepuh perintis kebangkitan Buddha Dhamma di Indonesia yang tersisa.  

Pandit Jinaratana Kaharudin lahir pada hari Senin tanggal 31 Mei 1937, menjelang petang hari Pukul 16.30 WIB. Ia lahir di Bengkulu, Sumatera Selatan dari pasangan Oei Goat Hoa dan Thio Sim Nio. Anak bungsu dari 8 bersaudara ini diberi nama lahir Oei Keng Tjoe oleh orangtuanya yang menganut agama Buddha. Oei Keng Tjoe menghabiskan masa kanak-kanak hingga remaja di Bengkulu. Pendidikan dasar ditempuh di Sekolah Tionghoa Chung Hua Xie Xiao dan menamatkan sekolah menengah di SMA Negeri Bengkulu.

Ketertarikannya terhadap agama Buddha dimulai setelah sebelumnya sempat ingin memeluk agama lain – lalu diarahkan orangtuanya agar mengenal agama Buddha lebih dulu. Ini karena sebelumnya ia menganggap bahwa agama Buddha itu adalah “penyembah patung”. Di kemudian hari, Oei Keng Tjoe secara iseng bertanya pada pemilik toko obat Kinol bernama Tjoa Tjeng Wan, apakah mempunyai buku tentang ajaran Buddha Gotama. Gayung pun bersambut ketika Tjoa Tjeng Wan menjawabnya dengan meminjami buku berjudul, “Intisari Agama Buddha”.

Peristiwa Tri Suci Waisak 1959
Pada bulan Mei 1959 Oei Keng Tjoe yang gemar membaca, mengetahui pengumuman penting dari majalah Star Weekly. Pada majalah mingguan itu ia mengetahui akan ada peringatan Tri Suci Waisak 1959 di Candi Borobudur. Ia pun bertekad untuk dapat hadir mengikuti perayaan Waisak di Borobudur dan cita-citanya terwujud.

Pada tahun 1960, saat Ashin Jinnarakkhita berkunjung ke kota Bengkulu, Oei Keng Tjoe diwisuda upasaka dengan nama Buddhis Maitri Ratna. Bahkan kemudian, ia sempat dipercaya menjadi Sekretaris Perhimpunan Buddhis Indonesia (PERBUDI) dan Persaudaraan Upasaka Upasika Indonesia (PUUI) Cabang Bengkulu. Sampai tahun 1961, pemuda yang gemar membaca, olahraga terutama basket, dan menari ini bekerja membantu Oei Keng Hong, salah satu kakaknya yang mempunyai toko dan pabrik kopi Pelaris.  

Pada bulan April 1963, Maitri Ratna Oei Keng Tjoe menjadi samanera di Wihara Vimala Dharma, Bandung. Ia ditahbiskan Ashin Jinnarakhita menjadi samanera dengan nama Jinaratana. Bersamaan dengan pentahbisannya, terdapat seorang pemuda dari Blora bernama Lukito Sapari yang diajak serta Ashin Jinnarakkhita dari Wihara Buddha Gaya, Watu Gong, Semarang. Lukito Sapari yang semula adalah karyawan Warung Watu Gong di komplek Wihara Buddha Gaya ini turut ditahbiskan menjadi samanera dengan nama Jinnakumar – ia pada tahun 1965 berjasa besar dalam menyelamatkan Wihara Maha Dhamma Loka, Tanah Putih, Semarang (Red.-). Setelah menjadi samanera, Samanera Jinaratana turut membabarkan Buddha Dhamma di Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Bali, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Menerima Upasampada
Pada tahun 1966, Samanera Jinaratana bersama dengan Samanera Jinagiri menerima penahbisan  upasampada  di Wat Benchamabophit (Marble Buddhist Temple  Bangkok), Thailand. Samanera Jinagiri mendapat nama Bhikkhu Girirakkhito dan Samanera Jinaratana mendapat nama Bhikkhu Jinaratana. Setelah menjadi bhikkhu, mulai tahun 1966 sampai 1976 atau selama 10 tahun, Bhikkhu Jinaratana mendapat tugas belajar agama Buddha di Bangkok.

Setelah lulus, ia berhasil meraih gelar Abhidhamma Pandit (untuk bidang sarjana filsafat, metafisika, dan ilmu jiwa/psikologi agama Buddha), dengan prestasi, Terbaik. Bhikkhu Jinaratana juga sempat belajar di Taipei untuk mempelajari agama Buddha Mahayana. Setelah genap 10 tahun menjalankan hidup kebhikkhuan ia kembali menjadi upasaka. Beberapa waktu kemudian, mantan bhikkhu yang lebih dikenal dengan nama Kaharudin ini kawin dengan Pandita Abhayahema Sidje. Perkawinan pasangan Buddhis ini dianugerahi seorang putri bernama Sri Suwanna Kaharuddin, S.Sn.

Tetap Mengabdi Demi Kemajuan Buddha Dhamma
Meski telah lepas jubah dan hidup sebagai perumah tangga, Pandit Kaharudin tetap mendedikasikan diri pada kemajuan Buddha Dhamma di Tanah Air. Berikut ini deretan pengabdiannya untuk Buddha Sasana:  
1). Selama 2 tahun menjadi guru bahasa Thai mengajar di Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN), Pasar Minggu, Jak-Sel (1986-1988).  
2). Selama 5 tahun menjadi Dosen Agama Buddha di Akademi Perhotelan dan Kepariwisataan Tri Sakti (APK Tri Sakti) (1979-1984).  
3). Selama 17 tahun menjadi Guru Agama Buddha untuk SMP/SMU merangkap menjadi Bendahara di Sekolah Kemurnian (1981-1998).  
4). Selama 19 tahun menjadi Dosen Agama Buddha di Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda. Ia mengajar mata kuliah: Pokok Dasar Agama Buddha, Dhammavibhanga (pelajaran inti pati Tipitaka), Abhidhammatthasangaha, dan Abhidhamma Pitaka. Di sekolah tinggi ini, ia sempat meraih kedudukan sebagai Lektor bidang Abhidhamma.  
5). Staff pengajar Program Pascasarjana Magister Agama Buddha (S.2) di Sekolah Tinggi Agama Buddha Maha Prajna, Jakarta.  

Selain berkecimpung pada dunia pendidikan formal Buddhis seperti di atas. Pandit Kaharudin juga menyempatkan diri mengajar di berbagai kesempatan lain. Beberapa di antaranya adalah:
1). Tahun 1987-1998: Selama 11 tahun dirumahnya (Tri Sattva Buddhist Center), ia mengadakan Kursus Pokok Dasar Agama Buddha dan Abhidhamma setiap hari Minggu ke-4 tanpa di pungut biaya.
2). Tahun 1998-2014, ia aktif membantu Walubi di bagian Sekretariat dan mengajar Pokok Dasar Agama Buddha, Dhammavibhanga, dan Abhidhamma. Ia mengajar di berbagai pelatihan, kursus, wihara, apartemen, kantor, kegiatan pabbaja samanera sementara, dan lain sebagainya.  

Sebagai akademisi Buddhis, Pandit Kaharudin juga membuahkan banyak karya tulis sebagai warisan jejak literasi bagi generasi penerus. Buku-buku karyanya antara lain adalah: Dhamma Sakaccha, Bhavana, Abhidhammatthasangaha I dan II, Kebebasan Mutlak dalam Buddha Dhamma, Dhammasangani, Kamus Buddha Dhamma, Kamus Baru Buddha Dhamma, Bunga Rampai Dhamma dalam Tanya Jawab, Pengantar Abhidhamma, Hidup dan Kehidupan, Kamus Umum Buddha Dhamma, Abhidhamma 45 Jam, Sasana, Tanya Jawab Mula Vipassana, Rampaian Dhamma, Abhidhammatthasangaha Baru, Kamus Umum Pali-Sanskerta-Indonesia, Tanya Jawab Atthadhamma, dan Mula Yamaka (Bab pertama dari Kitab Suci Yamaka).

Mematuhi Hukum Dhamma
Sebagai seorang upasaka yang dikenal ahli dalam Abhidhamma, Pandit Kaharudin patuh pada hukum Dhamma. Bahwa tiada segala sesuatu pun yang kekal. Setiap makhluk lahir, tumbuh, berkembang, tua, sakit, dan mati. Demi menyadari sifat ketidakkekalan akan diri itu, Pandit Kaharudin selama hidupnya telah melakukan donor darah (lohita-dana) sebanyak 112 kali. Hingga pada tahun 1997, ia meraih penghargaan Satya Lencana Kebaktian Sosial  dari Pemerintah.

Pada bulan September 2015, Pandit Kaharudin sempat sakit dan dirawat di RS Graha Kedoya, Jakarta. Ia mengalami sakit infeksi pada bagian usus dan pembengkakan pada bagian lever. Namun berkat jasa kebajikannya di waktu lampau, ia dapat sembuh dan keluar dari rumah sakit tak lama kemudian. Pada tanggal 31 Mei 2019, Pandit Kaharudin memperingati hari kelahirannya yang ke 82 tahun di tengah keluarga tercintanya. Sempat melewati bulan-bulan awal tahun baru 2020, kesehatan Pandit Kaharudin mulai menurun.

Hingga tepat pada tanggal 1 Maret 2020 Pukul 22.00 WIB, warga Buddha di Indonesia menerima warta viral bahwa pejuang Dhamma ini telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Pandit Jinaratana Kaharudin telah wafat meninggalkan warisan sangat penting dan berharga bagi generasai muda Buddhis. Ia telah mengabdikan hidupnya untuk Buddha Dhamma dengan menjadi guru dan mengajar hingga usia sepuh. Semoga Sang Pejuang Dhamma ini berbahagia di alam selanjutnya

Artikel dan foto diambil dari sumber:
Rodjali, Selamat. 2015. “Catatan Perjalanan Hidup Pejuang Dhamma (Otobiografi Singkat Pandit Kaharudin)”. Jakarta: Persatuan Pariyati Abdhidhamma.

Diedit seperlunya oleh Dhammatejo W.



Share it!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *