Leluhuring Nagari

Kidung Tunggak Semi Badra Santi

Pada bulan Agustus 1750, dalam Puputan Lasem, yaitu perang antara penduduk Lasem melawan tentara VOC Belanda dibantu kaki tangannya, Adipati Suro Adimenggala. Raden Panji Margana terluka di palagan, lalu segera diselamatkan Ki Mursada dan Ki Galiya, abdi setianya. Ia digendong dan berhasil diselamatkan di sebuah tempat aman yang terletak di Dukuh Sambong, Desa Dorokandang, Lasem.

Akibat luka parah yang menimpanya, Raden Panji Margana gugur dengan terlebih dahulu menyampaikan pesan wasiat kepada kedua abdi dalemnya. Salah satu wasiat beliau adalah harapan bagi generasi penerusnya, agar berkenan merawat dan melestarikan Pustaka Buddha, Sabda Badra Santi. Ini adalah sastra Jawa pesisir utara bercorak Buddha yang memuat ajaran budi pekerti bagi para gharāvāsa (perumah tangga pemeluk Buddha). Pesan wasiat Raden Panji Margana itu disampaikan dalam sebuah tembang jawa bermetrum sinom sebagai berikut:

Mumpung anom mêmêrdiya, mardawèng Budaya Seni.
trap susila tatakrama, kapribadèn Bangsa Jawi,
dèn pudhi pinêpêtri, kang nèng lênging Trêngga-ulun,
Panji Lasêm Talbaya, klayu ngèsthi Badra-Santi,
labuh ladi mrih mrajak Tunjung Mandira.

Bêtèkira labuh Bangsa, sanadyan dèn anggêp musrik,
nanging êmpaning panjangka, tansah muji mangastuti,
mrih anjraha sri-adi, Buda Budi Budaya-gung,
ing sakadar mawrêta, swawi ngrêksa myang mêmêtri,
nglêksanana sabdane Yang Santibadra.

Sebagai penghormatan atas perjuangan Raden Panji Margana dalam merawat dan melestarikan pustaka Buddha, Sabda Badra Santi. Warga Buddha dapat melantukan syair  Kidung Tunggak Semi Badra Santi di atas. Dengan mengikuti contoh yang terdapat pada ikon audio, di bawah foto rupang Raden Panji Margana. Lantunan contoh cara melantunkan kidung ini adalah suara indah dari Dr. Widodo Broto Sejati. Selamat menikmati.

Share it!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *