Carita Buddha Dharma Nusantara

Keluarga “Soko Tatal” Sanak Turun Kalijaga

Sumber sebuah Carita mengisahkan bahwa salah satu keturunan Mpu Santi Badra yang bernama Santi Kusuma, kelak di kemudian hari dikenal sebagai Kalijaga. Dikisahkan pada suatu ketika, di saat para wali sangha mendirikan masjid di Demak. Kalijaga menyumbangkan sebuah tiang soko unik untuk melengkapi sejumlah tiang yang diperlukan. Tiang soko buatan Kalijaga terbuat dari kepingan-kepingan kayu jati, atau tatal (jawa), yang disatukan. Secara fisik, tiang Kalijaga kuat menyangga atap joglo susun tiga. Juga tahan gempa dan terpaan angin yang kencang. Namun di balik itu, terdapat filosofi bernilai tinggi dari “tatal” tiang soko karya Kalijaga. Nilai itu adalah kepingan-kepingan kecil yang diikat dengan tali persatuan kesatuan, akan kuat menyangga beban berat yang disangga. Kelak, nilai-nilai persatuan kesatuan ini terlukis indah dalam Pancasila sebagai Dasar Negara. Serta nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika sebagai sesanti sakti Garuda Pancasila, lambang negara Indonesia. 

Keluarga Pancasila Sanak Turun Kalijaga

Gambaran nilai luhur “tatal” tiang soko bangunan joglo Kalijaga masih dapat kita temui dari keceriaan dan kebahagiaan salah satu keturunannya. Seperti dituturkan Ratya Mardika Tata Koesoema kepada Badrasanti.or.id dalam rangka merayakan Idul Fitri 1440 H/2019 baru-baru ini.

“Saya Ratya Mardika Tata Koesoema. Saya anak ragil (bungsu) dari lima bersaudara yang lahir dari pasangan R.M. Tridaja Koesoemasardjana dan Ibu R.Ay. Kartini Dewi Merapi” ujarnya. Ia melanjutkan “jika sejak kecil, orangtua kami selalu mendidik dan menanamkan nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika kepada putra-putrinya”. “Nilai-nilai keberagaman kekayaan Indonesia, termasuk agama atau keyakinan, sudah diajarkan turun-temurun dan menjadi tradisi sejak dahulu kala”.

Keluarga Besar Ibu R. Ay. Kartini Dewi Merapi dengan putra-putri yang memeluk berbagai agama. Namun selalu guyup rukun satu sama lain

Mendiang kakek dari ibu yang bernama Sayid Muhammad misalnya, selalu mengajarkan nilai-nilai keislaman dan Pancasila kepada keluarga. Kebetulan, Eyang Sayid Muhammad adalah keturunan Sunan Kalijaga, yang mempunyai garis silsilah runut (genealogis) dari Sunan Kalijaga hingga ibu saya. Demikian halnya dengan kakek dari ayah saya yang bernama R.M. Sarwadi Prabawijaya. Semasa hidup, beliau selalu menanamkan penghayatan terhadap nilai-nilai Pancasila. Terlebih pada piwulang luhur ajaran Jawa.

Sehingga, penanaman nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika terus lestari hingga orangtua kami. Hingga dalam memilih agama, ayah dan ibu membebaskan kelima orang putra-putrinya untuk mengenal dan memilih agama sesuai keyakinan masing-masing. Putra-putrinya bebas memeluk dan beribadah sesuai agama dan kepercayaan yang dianutnya. Walhasil, kami berlima memilih dan memeluk agama yang berbeda-beda. Namun dalam keseharian, kami tetap kompak dan memegang teguh persatuan keluarga besar.

Berikut adalah profil singkat kami lima bersaudara secara berurutan: (1). Kakak pertama saya, Raneng Marhaendra Tinong Koesoema adalah pemeluk Buddha. Kini ia menjadi seorang bhikkhu bernama Ashin Kheminda Thera. Ia diupasampada menjadi bhikkhu dalam tradisi Theravada di Myanmar sejak tahun 2001; (2). Kakak kedua, Rekta Mandrawa Tinon Koesoema adalah pemeluk Kristen; (3). Nomor tiga adalah Rinong Mardika Tata Koesoema, seorang muslimah aliran Salafi; (4). Kakak nomor empat, Rindoe Mahatsih Tantri Koesoema, adalah penganut Kristen Katolik; dan (5). Saya sendiri adalah penganut Kejawen. Sementara Ibu saya adalah pemeluk agama Islam yang taat.

Saya Ratya (kiri nomor dua), bersama kakak sulung saya, Bhikkhu Ashin Kheminda, Thera (tengah, berjubah) beserta saudara kandung lain yang memeluk agama berbeda-beda. Namun tetap guyup rukun satu sama lainnya

Perkawinan Beda Suku dan Agama

Selain perbedaan agama di antara kami lima bersaudara, orangtua kami juga mengizinkan putra-putrinya untuk kawin berbeda suku dan agama. Ada saudara saya yang kawin dengan sesama orang Jawa, ada pula yang berumah tangga dengan orang Tionghoa. Maka sejak kecil, kami semua terbiasa menghargai dan menghormati semua suku, agama, ras, dan antar golongan apapun yang ada di Indonesia. Apalagi kakek-kakek kami dahulu pernah turut berjuang mengangkat senjata mempertahankan kemerdekaan. Maka kisah pilu rasanya pertengkaran karena sekat-sekat perbedaan, jangan sampai menodai perjuangan luhur para pahlawan pendiri bangsa dan negara Indonesia.

Pada era kemerdekaan, kakak ayah kami, K.R.M.H. Toeloes Koesoemaboedaja adalah salah satu Anggota Manggala BP-7 Pusat Penyusun Eka Prasetia Pancakarsa atau Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P 4). Itulah mengapa akhirnya, nilai-nilai Pancasila dan Kebhinekaan benar-benar meresat hingga ke urat dan sumsum saraf tulang kami bersaudara.

Unity in Diversity

Demikianlah suasana keceriaan keluarga kami. Dalam ungkapan bahasa Inggris, semboyan Bhineka Tunggal Ika atau Unity in diversity, sungguh-sungguh hadir dan nyata di keluarga kami. Perasaan saling asah-asih-asuh dalam perbedaan sejak kami kanak-kanak hingga usia dewasa dan tua benar-benar terawatt dengan baik.

Seperti suasana perayaan Idul Fitri 1440 H/2019 hari ini. Pagi-pagi sekali, kakak ketiga saya, Mbak Rinong dengan lugas menjelaskan bagaimana ajaran Salafi yang dianutnya. Ia yang sekarang mengenakan jilbab dan bahkan anak perempuannya diizinkannya bercadar (tapi bukan burqa, hanya sekedar bercadar). “Penganut Salafi yang sejati tidak mengkafir-kafirkan yang lainnya. Tidak ikut-ikutan demo. Apalagi makar, dan sejenisnya”.

Lebih lanjut ia mengisahkan pengalamannya mengikuti suatu pengajian. Ada seorang peserta yang bertanya kepada Ustadznya, “Apakah Presiden kita kafir?”. Pertanyaan itu langsung dibalas Sang Ustadz, “MasyaAllah…Kamu silahkan mengaji di luar sana. Jangan di sini!”. Demikian pernyataan Sang Ustadz menunjukkan kewajiban pada penganut Salafi untuk cinta tanah air dan pemimpinnya.

Mbak Rinong juga menjelaskan, “bahwa penganut Salafi yang benar tidak ada hubungannya dengan mereka yang suka menghujat aparat keamanan (tentara dan polisi), menghujat Pancasila sebagai Dasar Negara, serta mengingkari dan memberontak pada NKRI. Penganut Salafi yang benar, tidak ada hubungannya dengan HTI”.

Selain keterangan kakak ketiga saya di atas. Kami berlima sering bertukar pikiran, dan diskusi tentang agama yang kami peluk masing-masing. Sehingga kami bisa membantu mengoreksi atau meluruskan kabar bohong (hoax) yang seringkali tersebar bebas dan merisaukan masyarakat. Demikianlah gambaran keluarga kecil kami yang terdiri dari beragam suku dan agama. Kami berharap, kisah ini dapat menginspirasi keluarga-keluarga lain di seluruh penjuru Tanah Air. Sehingga cita-cita pendiri bangsa dan negara Indonesia untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur dapat selalu tercapai. Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastutiSikap angkara murka dan kekuasaan yang serakah, akan sirna oleh kekuatan cinta kasih dan kasih sayang.

Penulis: Dhammatejo W.
Editor: Cittasukho W.
Sumber wawancara: Ratya Mardika Tata Koesoema

Share it!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *