Carita Wiku lan Pandita

Hidden Story Ketika Ashin Jinarakkhita Berdiam di Watu Gong-Kassapa (1)

Sejarah mencatat, bahwa bhikkhu bercorak budaya Theravāda pertama yang lahir di zaman kemerdekaan adalah Ashin Jinarakkhita. Namun tak banyak yang tahu, bagaimana awal mula Sang Pelopor mengawali pemutaran roda Dhamma di tanah air.

Berdirinya Persaudaraan Upāsakā-Upāsikā Indonesia
Sejak akhir abad ke-XX hingga awal kemerdekaan Indonesia, geliat berseminya kembali Buddha Dhamma di tanah air semakin tumbuh. Salah satunya ditandai dengan berdirinya himpunan pemeluk Buddha pertama. Namanya Persaudaraan Upāsakā-upāsikā Indonesia (P.U.U.I) pada tahun 1953 di Jakarta.

Namun cakupan wilayah organisasi Buddhis awal ini baru di lingkup kota Jakarta saja. Himpunan ini didirikan oleh tokoh-tokoh Theosofi, upāsakā-upāsikā, dan Sam Kaw Hwe di Jakarta (lihat: Peringatan Perajaan Waisak 2503, 1959: 35).

Selain P.U.U.I. Jakarta, organisasi lain seperti Perhimpunan Theosofi Indonesia dan G.T.I (sebelumnya G.S.K.I) juga telah berhasil mempersatukan banyak kalangan. Bersatu untuk membulatkan tekad pemutaran kembali Buddha Dhamma di tanah air.

Pengabdian Penuh Seorang Putra Kusuma Bangsa
Pada tahun 1953 itu juga, terdapat seorang pemuda kelahiran Bogor, Jawa Barat. Namanya The Boan An (1923-2002). Ia baru saja kembali ke tanah air setelah sempat mencicipi bangku kuliah di Groningen, Belanda. Pemuda The Boan An juga sudah mendengar, bahwa di tanah air telah bersemi usaha-usaha membangkitkan kembali Buddha Dhamma.

Demi mendukung usaha-usaha kebangkitan Buddha Dhamma lebih mantap lagi. The Boan An memutuskan menjadi anagarika pada tanggal 23 Mei 1953. Setelahnya, ia langsung memotori peringatan Tri Suci Waisak pertama di Candi Borobudur, Magelang. Masih di tahun 1953 itu juga, Anagarika The Boan An menjadi samanera dalam corak budaya Mahayana. Ia ditahbiskan Y.A. Sanghanata Aryamulya Pen Cing Lao He Sang, di Wihara Kong Hoa Sie, Jakarta, dan diberi nama Ti Chen.

Meski berlatar budaya corak Mahayana, Y.A. Sanghanata Aryamulya Pen Cing Lao He Sang berbesar hati, untuk mendorong Samanera Ti Chen memperdalam corak budaya Theravāda. Bahkan ia mengupayakan dukungan dana bagi Samanera Ti Chen agar dapat lekas terbang ke Sri Lanka. Namun karena waktu itu belum ada tanggapan dari kedutaan Sri Lanka, terpilihlah negeri Myanmar (dulu Burma) sebagai tujuan belajar.

Maka pada bulan Desember 1953, Samanera Ti Chen berangkat ke Myanmar untuk belajar di Mahasi Sasana Yeikhta, di kota Rangoon. Pada pagi hari tanggal 23 Januari 1954, Samanera Ti Chen ditahbis kembali sebagai samanera dalam corak budaya Theravāda. Lalu sore harinya di-upasampada menjadi seorang bhikkhu. Bertindak sebagai upajaya adalah Y.A. Agga Maha Pandita U Ashin Sobhana Mahathera atau yang lebih dikenal Mahasi Sayadaw. Oleh gurunya, Samanera Ti Chen diberi nama Ashin Jinarakkhita

Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa ia adalah bhikkhu Theravāda putra Indonesia pertama yang lahir di zaman kemerdekaan. Atau bisa jadi ia adalah bhikkhu Theravāda pertama yang lahir pascasenja kala Wilwatikta-Majapahit. Sebab sumber sejarah Gong-Guan (Dewan Tionghoa) menyebutkan bahwa pada tahun 1650 sampai 1900 sudah ada banyak bhiksu-bhiksuni menetap di tanah air. Namun coraknya adalah budaya Mahayana China yang kegiatannya baru sebatas memberi pelayanan masyarakat Tionghoa di klenteng-klenteng.

Pulang ke Tanah Air
Pada awal tahun 1955, setelah setahun memperdalam Buddha Dhamma di luar negeri, Ashin Jinarakkhita kembali ke tanah air. Awalnya, ia memulai pembabaran Buddha Dhamma ke pelosok Jawa. Ia melangkah dari satu kota ke kota lainnya dengan menelusuri jaringan Perhimpunan Theosofi Indonesia dan G.T.I. Di setiap kota yang dikunjungi, ia berdiam sementara waktu di klenteng-klenteng atau menumpang menginap di kediaman pemeluk Buddha yang sudi menerimanya.

Sampai suatu ketika setelah ajeg mengisi ceramah di Klenteng Tay Kak Sie, Semarang. Ashin Jinarakkhita mendapat dukungan penuh dalam memutar roda Dhamma  di  tanah  air. Di sebuah bukit  yang namanya disebutkan dalam Babad Tanah Jawi. Ashin Jinarakkhita menancapkan tonggak bersejarah berdirinya vihara-sima pertama sesudah ratusan tahun rubuhnya Wilwatikta-Majapahit.

Bukit Bersejarah Tempat Berdamainya Tiga Bangsawan Jawa
Dikisahkan, setelah rubuhnya kerajaan Pajang, terdapat tiga orang bangsawan Jawa yang saling berebut kekuasaan. Mereka memperebutkan wilayah Jawa Timur, Pesisir Utara, dan Alas Mentaok atau Mataram. Masing-masing bangsawan Jawa itu perang tanding sampai berhari-hari. Namun tidak ada satu pun yang menang dan tidak ada yang kalah. Semuanya sama-sama “digdaya” dalam bela diri dan kekuatan pasukan masing-masing.

Sampai suatu hari, ketiga orang bangsawan dimaksud berhenti berperang dan sepakat berdamai. Di sebuah bukit bernama Kassapa (baca: Kasap) yang berbentuk punden dikelilingi bukit dan dibelah sungai Kaligarang. Ketiga orang bangsawan tadi sepakat membagi tiga wilayah yang diperebutkan, dan masing-masing puas dengan keputusan bersama itu.

Di bukit Kassapa ini pula, pada tahun 1958 untuk pertama kalinya berdiri vihara pertama di Indonesia. Lalu disusul diresmikannya Sima atau tempat upasampada bhikkhu pertama pada tahun 1959. Di Bukit ini juga untuk pertama kalinya hadir belasan bhikkhu dari berbagai sangha di dunia ke Indonesia. Mereka melakukan upacara penetapan sima dan upasampada bhikkhu pertama di tanah air.

Secara arkeologi-artefaktual, kesakralan bukit Kassapa diketahui dengan adanya temuan benda cagar budaya (BCB) di barisan bukit yang mengelilinginya. Selain arca ganesha, lingga, yoni, ukiran kepala naga, dan ukiran kura-kura di atas batu alam. Terdapat pula temuan arca Buddha yang kini telah “terbang” ke luar negeri pada sekitar awal tahun 1980-an.

Bagaimana kisah lengkapnya? (bersambung)

Keterangan:
Penulis memilih kata corak budaya yang lebih bermakna denotatif daripada kata madzab, aliran, atau sekte yang cenderung bermakna konotatif dan sarkas (hinaan) serta memecah belah pandangan agama Buddha.

Penulis : S. Santiphalo
Editor  : Metta Surya     

Share it!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *